Advertisement

Air Limbah Cucian Kelambu Makam Gunung Kemukus Sragen Jadi Rebutan Warga di 1 Sura

Tri Rahayu
Minggu, 07 Juli 2024 - 15:07 WIB
Sunartono
Air Limbah Cucian Kelambu Makam Gunung Kemukus Sragen Jadi Rebutan Warga di 1 Sura Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati (tengah) membilas kain kelambu Makam Pangeran Samodro dalam acara jamasan rutin 1 Sura di Gunung Kemukus Sumberlawang, Sragen, Minggu (7/7/2024). - Solopos/Tri Rahayu.

Advertisement

Harianjogja.com, SRAGEN—Ratusan pengunjung berebut air limbah cucian kelambu makam Pangeran Samodro yang dikeramatkan di Gunung Kemukus, Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, Minggu (7/7/2024). Pencucian kelambu makam itu sudah menjadi tradisi tiap 1 Sura atau 1 Muharam.

Para pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen hadir mengenakan pakaian adat Jawa seperti beskap lengkap dengan keris di punggung. Mereka berdiri di depan pintu masuk makam Pangeran Samudro.

Advertisement

Jamasan kelambu makam itu menjadi tradisi setiap 1 Sura selama bertahun-tahun. Prosesi pencucian kelambu itu ditunggu-tunggu warga dari berbagai daerah yang ingin ngalap berkah dari air bekas cucian atau air sisa bilasan kain kelambu.

BACA JUGA : Ingin Ikut Tradisi Mubeng Beteng Bersama Abdi Dalem Kraton Malam Ini? Simak Ketentuannya!

Para warga sudah bersiap di lokasi bilasan dengan volume air yang disediakan sebanyak lima unit drum besar. Mereka membawa wadah botol air mineral hingga ember. Mereka masih percaya bahwa air bekas cucian atau bilasan itu bisa mendatangkan berkah dari hidup.

Tradisi itu dikenal dengan Larap Kelambu Makam Pangeran Samudro 2024. Event tersebut masuk dalam kalender event Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Sragen. Wakil Bupati (Wabup) Suroto berada di antara rombongan pejabat yang mengenakan pakaian beskap. Sesuai arahan pambiwara, Wabup memasuki ruangan Makam Pangeran Samudro didampingi Kepala Disporapar Sragen Joko Hendang Murdono.

Mereka mencopot tirai kelambu yang menutup makam itu. Kelambu itu diletakkan pada wadah seperti baki atau nampan. Kain kelambu itu kemudian diserahkan kepada Camat Sumberlawang Indarto Setyo Pramono dan Camat Miri Ali Rachmanto.

Dua camat itu membawa kelambu dengan dikawal 40 prajurit dengan sepasang cucuk lampah atau pemimpin prajurit yang berjalan paling depan. Kelambu itu kemudian diserahkan kepada Kepala Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang dan Kepala Desa Soko, Kecamatan Miri.

Setibanya di gerbang luar, kelambu tersebut diserahkan kepada juru kunci untuk dicuci di pinggir Sungai Serang di bawah Dermaga Nyi Ageng Serang. Jarak lokasi makam dengan Sungai Serang cukup jauh dengan kontur jalan menurun curam.

Daya Tarik

Juru kunci menuruni anak tangga sampai ke dermaga di bawah promenade Gunung Kemukus. Di lokasi pinggir sungai itu sudah ada warga yang mengantre untuk mendapatkan air bekas cucian kelambu. Seorang ibu-ibu datang dengan membawa dua ember untuk wadah air.

Bahkan ada warga dari Lampung Timur bersama anaknya yang jauh-jauh datang untuk mendapatkan air tersebut. Mereka mewadahi tetesan air dari kelambu yang sudah dicuci. Pencucian kelambu itu tidak menggunakan sabun melainkan hanya dimasukkan ke air sungai beberapa kali lalu diangkat.

“Ini saya dapat satu liter air bekas cucian kelambu. Saya yakinnya tetap sama Allah. Dengan sarana ini, semoga ada berkahnya dari Mbah Kiai Pangeran Samudro untuk kepentingan dunia dan akhirat. Air ini nanti untuk sarana mandi karena saya percaya kepada leluhur,” ujar Supriyanto, 54, warga Lampung Timur, saat berbincang dengan JIBI/Solopos, Minggu siang.

BACA JUGA : Wakil Menteri Tenaga Kerja Peroleh Gelar Kanjeng Pangeran dari Kraton Solo

Supriyanto sudah kali kelima ini datang ke Gunung Kemukus, Sragen, setiap momentum 1 Sura. Dia memiliki usaha di Lampung Timur. Dengan sering ziarah ke Pangeran Samudro, kata dia, ternyata ada peningkatan hasil di usahanya. Sesampainya di lokasi bilasan kelambu, Supriyanto masih berburu air bekas bilasan kelambu itu.

Jamasan kelambu Makam Pangeran Samudro yang pertama dilakukan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Tak hanya kelambu makam Pangeran Samudro, kelambu di Sendang Ontrowulan juga ikut dijamasi.

Bupati Yuni memasukkan kelambu ke dalam drum plastik berisi penuh air beberapa kali kemudian diangkat ke nampan yang disiapkan. Setelah Yuni, pembilasan dilanjutkan Wabup Sragen Suroto dan perwakilan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) Sragen.

Setelah selesai dibilas, kelambu kemudian diserahkan ke juru kunci untuk disimpan. Selanjutnya, ratusan warga langsung merangsek untuk berebut air. Mereka mengelilingi lokasi bilasan sembari berdesak-desakan. Ada yang menguyurkan air ke tubuh mereka dan ada pula yang mengambil air itu dengan botol air mineral. Tak hanya itu, ada yang mengambil menggunakan ember. Bupati Yuni berharap warga yang datang di event rutin setiap 1 Sura ke depannya lebih banyak lagi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Solopos

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Top 7 News Harian Jogja Online, Sabtu 20 Juli 2024, Sampah Bantul, Teras Malioboro 2, Bantul Creative Expo hingga Konser Musik TBY

Jogja
| Sabtu, 20 Juli 2024, 07:17 WIB

Advertisement

alt

Ini Dia Surganya Solo Traveler di Asia Tenggara

Wisata
| Kamis, 18 Juli 2024, 22:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement