Advertisement

Asal Usul Sedekah Kepala Kerbau Jelang 1 Sura di Lereng Merapi

Ni’matul Faizah
Minggu, 07 Juli 2024 - 16:27 WIB
Sunartono
Asal Usul Sedekah Kepala Kerbau Jelang 1 Sura di Lereng Merapi Gunung Merapi. - Harian Jogja - Gigih M. Hanafi

Advertisement

Harianjogja.com, BOYOLALI—Sedekah Gunung Merapi di Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali dengan kepala kerbau digelar jelang malam 1 Sura. Tradsisi ini ternyata tidak dimulai sejak zaman nenek moyang, melainkan baru dimulai sejak 1991 setiap malam 1 Sura.

Ketua Adat setempat, Paiman Hadi Martono, menjelaskan sebelum 1991, tradisi sedekah Gunung Merapi di Lencoh tidak membawa kepala kerbau, akan tetapi membawa beberapa sesaji.

Advertisement

“Yang membawa kirab kepala gunung dari 1991. Sebelum 1991, masyarakat tetap melaksanakan ritual merapi tapi tidak membawa kerbau. Hanya sesaji saja,” katanya kepada JIBI/Solopos di sela-sela acara, Sabtu (6/7/2024) malam.

BACA JUGA : Cegah Covid-19, Wisata Lereng Merapi sampai Tebing Breksi Ditutup Sementara

Sesaji yang dibawa antara lain tumpeng gunung atau gunungan nasi jagung, pisang raja dua biji, minuman kopi dengan gula batu, teh, air putih, palawija, ketela bakar, singkong bakar, dan sebagainya. Paiman menyampaikan hal tersebut selalu dilaksanakan karena merupakan tradisi walau terdapat keadaan darurat. Bahkan, saat pandemi Covid-19 tetap diadakan akan tetapi bukan dengan jumlah masyarakat yang besar.

Awal mula kirab dengan kepala kerbau pada 1991 bukanlah karena permintaan yang menjaga Merapi atau hal mistis. Akan tetapi, pada ditemukan riset bahwa Sinuhun Bangun Tapa atau Pakubuwono VI setiap jelang satu Sura datang membawa kerbau ke Merapi. Kemudian, Pakubuwono VI menyembelihnya di Pasar Bubrah dan dilarung di kawah Gunung Merapi. “Kepalanya dilarung di Merapi, dan dagingnya dibawa ke bawah, dibagikan ke masyarakat,” kata dia.

Saat ini, warga hanya membeli kepala kerbau saja dalam tradisi sedekah Gunung Merapi. Dalam status Gunung Merapi yang masih siaga, kepala kerbau bakal dilarung di area yang menjadi rekomendasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

Adapun rute kirab kepala kerbau dimulai dari rumah warga pembuat kepala kerbau dibawa ke Joglo Mandala Lencoh. Selanjutnya, dikirab ke joglo kedua di New Selo. Kemudian, dari sana ada serah terima kepala kerbau dan sesaji Merapi ke enam orang petugas membawa.

Tokoh masyarakat Lencoh, Hardi, mengatakan enam orang petugas yang membawa sesaji ke Merapi dalam ritual sedekah gunung bukanlah sembarang orang. Mereka memang dipilih tiap tahunnya untuk membawa kepala kerbau karena memiliki kesadaran, keikhlasan, dan mampu secara fisik.

Hardi mengatakan bukan sembarang orang mampu tengah malam harus ke puncak Merapi. Tepat tengah malam, kepala kerbau bakal diserahkan kepada enam petugas pembawa sesaji dari New Selo. “Perjalanan dari New Selo sampai ke lokasi bisa tiga sampai empat jam ke lokasi peletakan,” kata dia.

Ia mengatakan masyarakat Lencoh tidak berani meninggalkan kepercayaan sedekah gunung karena merupakan tradisi setempat. Hal tersebut dilaksanakan dengan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk diberikan keselamatan karena Merapi adalah salah satu gunung yang selalu aktif di Indonesia.

“Jadi harapannya ketika ada kejadian [dari Merapi], masyarakat di lereng gunung khususnya warga Lencoh diberikan keselamatan. Selama ini belum pernah tidak dilaksanakan, tradisi ini sudah sejak zaman nenek moyang,” kata dia.

BACA JUGA : Keraton Serahkan Uborampe Untuk Prosesi Labuhan Merapi

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Disporapar) Boyolali, Budi Prasetyaningsih, menyampaikan sebelum tradisi sedekah Gunung Merapi, turut digelar Festival Tari Rakyat dengan peserta dari masyarakat Selo. Kemudian, sebelum kirab sedekah gunung diadakan wayangan.

Ia mengatakan tradisi sedekah Gunung Merapi dilaksanakan tiap malam 1 Sura atau Muharram. Hal tersebut sebagai wujud terima kasih dan doa agar tahun yang akan datang menjadi lebih baik. Melalui kegiatan ini masyarakat di Lencoh juga lebih guyub rukun karena pelaksanaan tersebut kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali dengan warga Lencoh

“Tujuan dari kegiatan ini tentunya untuk nguri-uri budaya di Boyolali. Kemudian, dengan menguri-uri budaya artinya kami juga menarik wisatawan untuk datang ke Boyolali,” ucapnya.

Wisatawan asal Sragen, Putut Hartanto, mengaku tiba ke wilayah Selo sekitar pukul 16.00 WIB. Ia terlebih dulu berkunjung ke rumah saudaranya sebelum datang ke tradisi sedekah Gunung Merapi.

Putut yang juga hobi membuat konten tersebut sengaja datang ke Selo karena penasaran melihat sedekah Gunung Merapi dengan kepala kerbau. Ia mengaku baru kali pertama datang ke ritual tersebut.

“Ini sekaligus jadi bahan untuk konten. Tradisi ini menarik karena berbeda dengan Solo dan Sragen. Makanya saya penasaran tradisi malam 1 Sura terutama di lereng Gunung Merapi,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Jadwal Layanan SIM di Gunungkidul Sabtu 20 Juli 2024, Cek di Sini

Gunungkidul
| Sabtu, 20 Juli 2024, 05:37 WIB

Advertisement

alt

Ini Dia Surganya Solo Traveler di Asia Tenggara

Wisata
| Kamis, 18 Juli 2024, 22:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement