Advertisement

48 Desa di Boyolali Masuk Endemis DBD, Kasus Mencapai Ratusan

Nimatul Faizah
Selasa, 26 Maret 2024 - 22:17 WIB
Maya Herawati
48 Desa di Boyolali Masuk Endemis DBD, Kasus Mencapai Ratusan Nyamuk / Ilustrasi Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, BOYOLALI—Jumlah kasus dan kematian akibat demam berdarah dengue atau DBD pada Januari-Maret 2024 naik drastis dibanding periode yang sama pada 2023.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali mencatat ada 48 desa di Boyolali yang masuk kategori endemis DBD. Merespons data tersebut, Dinkes Boyolali menggelar rapat koordinasi kelompok kerja nasional (pokjanal) untuk menentukan langkah strategis dalam penanganan DBD di Boyolali, Selasa (26/3/2024).

Advertisement

Kepala Dinkes Boyolali, Puji Astuti, menyampaikan pada Januari-Maret 2024 ada 259 kasus DBD dengan lima orang meninggal dunia. Angka itu naik signifikan dibanding Januari-Maret 2023 yang tercatat ada 187 kasus dengan dua kematian.

Puji mengatakan angka tersebut harus disikapi dengan kewaspadaan, jangan sampai lengah hingga berpotensi meningkatkan jumlah kasus maupun angka kematian.

“Pokjanal ini sebenarnya kegiatan rutin. Hanya ini momen yang tepat untuk menggugah teman-teman karena kondisi saat ini walau terdapat penurunan [kasus] tapi cenderung naik dibanding tahun-tahun lalu. Sehingga semua harus waspada, takutnya kalau lengah, grafiknya tinggi lagi,” kata dia saat ditemui wartawan seusai rakor pokjanal di Ruang Cempaka Setda Boyolali, Selasa (26/3/2024).

Ia menyampaikan dalam rapat pokjanal ditekankan pentingnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) untuk mencegah bertambahnya jumlah kasus DBD dibanding fogging. Disarankan pula ikan-ikan pemakan jentik-jentik nyamuk ditaruh di dalam bak air mandi dan pemberian bubuk Abate.

BACA JUGA: Mudik Lebaran 2024, Kemendag Memperketat Pengawasan Layanan SPBU

Peran OPD Lain

Puji menjelaskan Dinkes Boyolali tidak bisa jalan sendiri dalam upaya mencegah dan mengurangi jumlah kasus DBD. Karenanya dalam rapat pokjanal itu, Dinkes juga mengundang perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain seperti Dinas Peternakan dan Perikanan, Dinas Pertanian, Dinas Perhubungan, dan lain-lain.

Ada pula stakeholder seperti Kementerian Agama Boyolali, perusahaan, dan lain-lain. Diundangnya beberapa pihak tersebut dengan harapan agar pemberantasan sarang nyamuk bisa dilakukan oleh semua pihak. Puji mencontohkan Dinas Pertanian bisa berperan dengan menanam lavender dan tanaman lain yang tidak disukai nyamuk.

“Pengadaan ikan untuk pencegahan penyakit [DBD] bisa dimasukkan program Disnakkan sambil kami menggugah masyarakat untuk bisa membeli sendiri, contohnya ikan cupang itu murah,” kata dia.

Sementara itu, Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Boyolali, Sri Wahyuni, menyampaikan terdapat 48 desa/kelurahan endemis DBD. “Kelurahan/desa endemis DBD adalah wilayah yang tiap tahunnya terdapat kasus DBD selama tiga tahun terakhir,” kata dia.

Berdasarkan data Dinkes Boyolali, berikut 48 desa/kelurahan endemis DBD:

- Desa Sukorejo di Kecamatan Musuk

- Desa Juwangi, Desa Kalimati, dan Desa Pilangrejo di Kecamatan Juwangi

- Kelurahan Siswodipuran, Desa Winong, Desa Kiringan, dan Desa Karanggeneng di Kecamatan Boyolali

- Desa Sempu di Kecamatan Andong

- Desa Tanjung dan Desa Sumberagung di Kecamatan Klego

 - Desa Grogolan dan Desa Manyaran di Kecamatan Karanggede

- Desa Ngaru-aru, Desa Bendan, Desa Banyudono, dan Desa Jembungan di Kecamatan Banyudono

- Desa Guwo di Kecamatan Wonosegoro

- Desa Selodoko, Kecamatan Ampel

- Desa Kemasan, Desa Cepokosawit, Desa Karangduren di Kecamatan Sawit

- Desa Dibal, Desa Kismoyoso, Desa Pandeyan, Desa Sindon, dan Desa Sobokerto di Kecamatan Ngemplak

- Desa Bendungan dan Desa Gunung di Kecamatan Simo

- Desa Wonosegoro di Kecamatan Wonosegoro

- Desa Tawengan dan Desa Babadan di Kecamatan Sambi

- Desa Cepogo di Kecamatan Cepogo

- Desa Dlingo, Desa Kragilan, Desa Manggis, Desa Tambak, Desa Karangnongko, dan Kelurahan Mojosongo di Kecamatan Mojosongo

- Desa Kadireso, Desa Nepen, Desa Salakan, Desa Teras, dan Desa Randusari di Kecamatan Teras.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Solopos

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Mau ke Jogja Naik Bus Damri dari Bandara YIA? Ini Jadwal dan Tarifnya

Jogja
| Minggu, 21 April 2024, 05:07 WIB

Advertisement

alt

Rekomendasi Menyantap Lezatnya Sup Kacang Merah di Jogja

Wisata
| Sabtu, 20 April 2024, 07:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement